MOISTURE BATUBARA (bagian 2)

Keberadaan moisture dalam contoh batubara yang halus sangat dipengaruhi oleh tingkat oleh tingkat kelembapan serta suhu dimana contoh tersebut berada, oleh karena itu nilainya dari waktu ke waktu dan dari suatu tempat ke tempat lainnya dapat berubah mengikuti perubahan kondisi di mana contoh tersebut berada.

Inherent moisture bukanlah istilah yang tetap untuk moisture ini, walaupun begitu banyak orang yang tetap mempergunakannya.

Residual moisture yang diperoleh pada penetapan total moisture tahap kedua ialah nilai yang hampir sama dengan nilai moisture ini, adapun yang membedakannnya ialah :

1. Pengeringan

  • Pada residual moisture, moisture dilakukan sampai diperoleh berat konstan
  • pada moisture (proximate) tidak perlu dilakukan sampai diperoleh berat konstan tetapi sampai contoh tersebut cukup kering untuk digiling, dibagi dan dihaluskan saja, pengeringannya pun harus mengikuti aturan yang terdapat di dalam metode standar.

2. Ukuran partikel contoh

  • Pada residual moisture, standar ISO, BS dan AS mempergunakan partikel -3 mm sedangkan ASTM mempergunakan beberapa ukuran partikel tergantung dari metode yang dipergunakannya, ukuran tersebut antara lain 2.36 mm, 0,850 mm dan 0,250 mm.
  • Pada moisture (proximate) standar ISO, BS dan AS mempergunakan partikel -212 um sedangkan ASTM mempergunakan partikel berukuran -250 um

3. Sebelum dianalisis

  • Pada residual moisture contoh tidak boleh di equilize
  • Pada moisture (proximate) contoh sebaiknya di equilize terlebih dahulu selama tidak lebih dari 45 menit.

Catatan :

  • Penetapan Moisture Holding Capacity/Equilibrium Moisture (MCH/EqM) akan menghasilkan hasil yang relatif tetap apabila dilakukan di laboratorium yang berbeda. Hal ini karena penetapan dilakukan dalam kondisi standar (96-98% Humudity, 30 derajat celcius)
  • Penetapan Total Moisture dengan metode two stage Determination, kondisi “ambient” setiap laboratorium tentunya tidak selalu sama, oleh karena Free Moisture/Air Dry Loss bisa berbeda dari laboratorium ke laboratorium yang lainnya tergantung dari suhu dan kelembapan. Surface Moisture tidak diperoleh melalui penetapan tetapi melalui perhitungan ( Surface Moisture = Total Moisture – Inherent Moisture), begitu dicapai berat konstan penetapan harus segera dilakukan.
  • Penetapan Moisture in Analysis Sample, pengeringan hanya sampai contoh cukup kering untuk dipreparasi. Pengeringan tidak perlu harus mencapai titik konstan, pengeringan berlebihan malah akan memperbesar kemungkinan untuk terjadinya oksidasi sehingga akan menurunkan niai calorific value. Pengeringan dilakukan sesuai dengan suhu dan lama pengeringan yang terdapat didalam metode standar, nilai Free Moisture (Air Dry Loss) hanya bersifat informative.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: